Saturday, 27 September 2014

Masa Depan (Politik) Perempuan

Unknown | 01:34 |
Satu abad yang lalu (1910), pada konferensi kedua perempuan sosialis sedunia di kota Kopenhagen, seorang aktivis gerakan perempuan dan tokoh sosialis berkebangsaan Jerman bernama Clara Zetkin menentang sikap separatis dari gerakan perempuan suffragist (menuntut hak pilih dalam pemilihan umum).
Partai Sosialis Amerika Serikat mengusulkan hari terakhir bulan Februari dijadikan hari demonstrasi untuk persamaan hak politik (hak untuk memilih dalam pemilihan umum) kaum perempuan. Clara Zetkin kemudian mengajukan usul untuk menginternasionalkan eksperimen Amerika dan mencetuskan ide bahwa setiap tahun dunia harus merayakan Hari Perempuan.
Pada tahun 1913 yang masih dalam suasana Perang Dunia Pertama, tanggal 8 Maret ditetapkan sebagai perayaan Hari Perempuan. Sampai saat ini, tanggal tersebut konsisten diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional.
Berbicara tentang cerita perempuan Indonesia, penulis teringat dengan mahakarya Pramoediya Ananta Toer yang berjudul ”Boemi Manusia”. Meskipun fiktif, Pramoediya dengan apik menuturkan kisah seorang perempuan Indonesia dalam profil perempuan pribumi bernama Sanikem. Tokoh ini adalah simbol perempuan yang mengalami marjinalisasi dalam bentuk tidak dipunyainya hak bicara untuk menentukan nasibnya sendiri.
Ayah Sanikem, Sastrotomo, adalah juru tulis desa yang bercita-cita menjadi seorang juru bayar pabrik gula (jabatan terhormat bagi pribumi desa saat itu). Untuk meraih cita-cita tersebut, Sastrotomo tidak segan melakukan cara tercela, salah satunya dengan ”menjual” Sanikem kepada administratur pabrik gula yang Belanda itu.
Sanikem kemudian menjadi istri tidak sah dan tidak berdaya di bawah laki-laki Belanda, dan dikenal sebagai Nyai Ontosoroh.
Dari kisah cerita Pramoediya tersebut, kita tentunya tidak berharap terjadi pada perempuan saat ini. Biarlah kisah perlakuan buruk terhadap perempuan sebagaimana cerita tersebut itu menjadi cerita kelam bagi perempuan pada masa lalu.
Perempuan Indonesia ke depan saatnya harus menunjukkan kemampuannya, terutama dalam memperjuangkan hak bicara untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai perjuangan atas hak dasar manusia, termasuk dalam hak politiknya.
Dunia politik saat ini diramaikan dengan fenomena tampilnya perempuan istri-istri kepala daerah yang habis masa jabatannya untuk menjadi calon kepala daerah (Kompas, 6 Maret 2010). Tahun 2010, tidak sedikit para istri kepala daerah berkuasa (incumbent) mencoba peruntungan di arena pemilihan kepala daerah (pilkada).
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, istri Bupati Bantul Sri Suryawidati (56) ikut bertarung juga. Sri yang lebih percaya diri dipanggil Ida dengan embel-embel nama suaminya, Idham Samawi, mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bantul. Bahkan di Kediri, kedua istri bupati ikut berebut kursi bupati Kediri periode 2010-2015. Mereka adalah Haryanti dan Nurlaila. Haryanti adalah istri sah dari Bupati Kediri Sutrisno. Dengan statusnya ini, Haryanti lebih beruntung daripada Nurlaila. Bahkan, Sutrisno sendiri dikabarkan lebih mendukung Haryanti. Di tingkat provinsi, nama Aida Zulaikha Ismeth, istri Gubernur Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Ismeth Abdullah yang kini berada dalam tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), juga sudah mendeklarasikan diri sebagai calon gubernur Kepri.
Kebangkitan perempuan?
Selain itu, juga banyak kalangan perempuan yang bukan istri kepala daerah juga sudah menyiapkan diri untuk maju sebagai calon kepala daerah, seperti di Surabaya ada Tri Rismaharini, di Ngawi ada Ratih Sanggarwati, dan ada bupati perempuan incumbent yang juga akan tetap berkompetisi sebagai calon kepala daerah, seperti Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari.
Pertanyaannya, apakah fenomena ini merupakan gambaran kebangkitan politik perempuan? Ataukah ini hanya menempatkan perempuan sebagai tameng elite yang ingin mempertahankan kekuasaan, dan bukan pada kapabilitas dan kualitasnya yang diperhitungkan?
Terlepas jawaban mana yang benar, tetapi bagi penulis ini merupakan tantangan bagiperempuan. Kaum Perempuan harus mampu membuktikan bahwa jangan sampai perempuan tidak dipilih karena keperempuanannya, sebagaimana kata Marina Mahathir, most women are not elected because they are women. Sehingga kemudian perempuan untuk terpilih harus mendompleng popularitas dari suaminya selama menjadi kepala daerah.
Perempuan sudah saatnya untuk menunjukkan bahwa mereka layak dipilih karena zaman menghendaki individu dengan kecakapan yang hari ini lebih dimiliki banyak perempuan, yaitu kemampuan memanajemeni secara win-win dan bukan win-and- loose. Berbagai penelitian juga menyebutkan, perempuan mendapat nilai lebih tinggi dari segi penilaian kerja dibandingkan dengan lelaki karena perempuan pemimpin selalu lebih cenderung untuk bertingkah laku secara demokratik dan mengambil bagian di mana mereka lebih menghormati dan prihatin terhadap pekerjanya atau bawahannya dan berbagi ”kekuasaan” serta perasaan dengan orang lain(Schermerhorn, 1999).
Perempuan juga selalu lebih mementingkan hubungan interpersonal, komunikasi, motivasi pekerja, berorientasi tugas, dan bersikap lebih demokratis dibanding lelaki yang lebih mementingkan aspek perancangan strategik dan analisa (Sharpe, 2000). Ramalan John Naisbitt dalam Megatrens for women menyebutkan, perempuan yang akan memperoleh peluang lebih besar tatkala masyarakat menjadi demokratis dan dengan meningkatnya kepemerintahan yang baik.
Untuk itu, momen peringatan Hari Perempuan Internasional saat ini harus menjadi lecutan bagi perempuan untuk menunjukkan bahwa perempuan layak dipilih bukan karena perempuannya, tetapi karena organisasi, masyarakat, zaman, dan peradaban memerlukannya secara kecakapan profesional dan secara kealamiahan yang dibawanya. Semoga ini bisa dibuktikan, dan selamat Hari Perempuan Internasional.

Share this article

0 komentar:

 
Copyright © 2015 PENA KEARIFAN
Blogger Templates | Template Design By BTDesigner