Didalam kehidupan ini tidak ada sesuatu yang ada secara tiba-tiba atau tidak mungkin ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan. Mungkin kita sering bertanya-tanya pada diri kita sendiri darimana datangnya segala sesuatu. Sekarang ini banyak orang yang membayangkan bahwa pada suatu waktu sesuatu pasti muncul dari ketiadaan khususnya penganut Agama Abrahamic dengan konsep Creatio et Nihilo (segala sesuatu berasal dari ketiadaan). Akan tetapi gagasan seperti itu tidak tersebar luas di kalangan orang-orang Yunani kuno karena mereka menganggap bahwa “sesuatu” itu selalu ada.
Bagaimana segala sesuatu dapat muncul dari ketiadaan bukanlah pertanyaan yang penting sama sekali akan tetapi bagi orang-orang Yunani mereka lebih takjub melihat bagaimana sesuatu dapat berubah dari zat menjadi benda hidup, misalnya ??? semua Filosof paling awal sama-sama percaya bahwa pasti ada suatu zat dasar di akar seluruh perubahan.
Ketiga Filosof Miletus (Thales, Anaximandros, Anaximenes) ini semuanya percaya pada keberadaan satu zat dasar sebagai sumber dari segala hal (arche). Namun , bagaimana mungkin suatu zat dapat dengan tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lain(masalah perubahan) Adalah Heraclitus (kira-kira 540-480 SM) yang berasal dari Ephesus di Asia kecil.
Dia beranggapan bahwa perubahan terus-menerus atau aliran, sesungguhnya merupakan ciri alam yang paling mendasar. Segala sesuatu terus mengalir (all things are in state of flux) . segala sesuatu terus menerus mengalami perubahan dan selalu bergerak, tidak ada yang menetap (nothing is stable). Perubahan itu tak henti-hentinya dibayangkan oleh Heraclitus atas dua cara: pertama, ia mengatakan bahwa seluruh kenyataan merupakan arus sungai yang terus mengalir dan kedua, ia mengatakna bahwa seluruh kenyataan adalah api. Arus sungai sebagai lambang perubahan terdapat dalam suatu ungkapannya yang terkenal “Kamu tidak akan dapat berenang pada sungai yang sama karena air sungai segar yang ada dibawah mu terus mengalir” Sebagai inti pemikiran Heraclitus boleh ditunjukkan keyakinannya bahwa tiap-tiap benda terdiri dari hal-hal yang saling berlawanan dan bahwa hal-hal yang berlawanan itu tetap mempunyai kesatuan.
Lebih singkatnya boleh kita katakan yang satu adalah banyak dan yang banyak adalah satu (reality is one-one in many). Ia menganggap bahwa api sebagai substansi dasar segala sesuatu.
Anaximandros juga mengatakan bahwa segala sesuatu terdiri dari hal-hal dari yang berlawanan. Tetapi Anaximandros menganggap bahwa pertentangan itu sebagai ketidakadilan. (musim panas akan mengalahkan musim dingin). Namun bagi Heraclitus dia berpendapat bahwa musim panas mempunyai artinya yang spesifik, karena ada musim juga dan sebaliknya. Dari sebab itu Heraclitus mengatakan bahwa “perang adalah bapak segala-galanya” (perang berarti “pertentangan”) dan dia juga mengatakan bahwa“pertentangan adalah keadilan” agaknya perkataan yang terakhir ini adalah krtikan bagi aniximandros.
Bila Heraclitus mengatakan bahwa semuanya adalah API, maksudnya adalah bahwa api sebenarnya bukan merupakan suatu zat asali dari mana seluruh alam berkembang. Bagi Heraclitus api bukanlah suatu unsure yang memiliki hirearkis dalam perubahan-perubahan dalam alam semesta melainkan api melambangkan perubahan itu sendiri. Kalau kita analisa lebih jauh pemikiran Heraclitus maka kita tidak sulit untuk dapat mengerti mengapa dia memilih api sebagai substansi dasar sebab menurut Heraclitus nyala api senantiasa memakan bahan bakar baru dan bahan bakar itu senantiasa berubah menjadi abu dan asap namun api itu tetap api yang sama. Oleh karena itu api sangat cocok sekali untuk melambangkan kesatuan dalam perubahan.
Dalam memandang realitas, terdapat kesatuan dalam dunia ini namun satu kesatuan tersebut terbentuk dari unsure-unsur yang berlawanan. Bagaimana sesuatu yang bertentangan kemudian berbaur untuk menghasilkan gerak yang tak lain adalah harmoni. Di dunia ini terdapat kesatuan, namun kesatuan yang tercipta dari keragaman. Tak aka nada kesatuan jika tidak ada hal-hal bertentangan yang berkombinasi. Doktrin sebenarnya mengandung benih-benih filsafat Hegel (proses dialektika). Sebagimana kita ketahui bahwa Hegel sangat menentang thesis (nilai positif) dan sangat menekankan Antithesis (nilai negative).
Dalam konsep Api Heraclitus, ketika semua pertentangan dimasukkan kedalam api maka semuanya itu akan menjadi satu. Tetapi ketika semua pertentangan tersebut telah bersatu dalam konsep Api maka eksistensi dari semua pertentangan itu akan hilang dan hanya ada satu eksistensi yaitu eksistensi api karena hanya api sajalah yang abadi karena api tak pernah padam: dunia ini “dahulu dan setersunya adalah api yang terus menyala”. Hanya saja api adalah sesuatu yang selalu berubah dan permanensinya lebih berupa proses daripada subtstansinya.
Sumber Rujukan :
K. Bertens, Prof. Dr, Sejarah Filsafat yunani, Penerbit Kanisius, Yogyakarta: edisi revisi 1975.
Bertrand Russell, Sejarah filsafat Yunani, Pustaka Pelajar Yogyakarta Cet I November 2002.
Jostein Gaarder, Dunia Shopie Sebuah Novel Filsafat Mizan media utama, Bandung
Cet I agustus 2010.
0 komentar:
Post a Comment