Spiritualitas Dalam Bisnis Dan Manajemen
Oleh : Eky_Casanova
Di tengah-tengah kompleksitas kehidupan hari ini yang begitu serba rumit dalam persoalan interaksi antar social, dikarenakan pola hidup masyarakat yang disibukkan oleh urusan masing-masing, baik itu dalam aspek dunia kerja, aspek kampus, aspek bisnis atau usaha, sehingga implikasinya adaalah orang-orang terjebak ke dalam individualisme yang menjerumuskan mereka ke dalam ranah yang lebih negative.
Individualisme justru malah mengedepankan
kepentingan pribadi ketimang kepentikan majemuk sehingga moral of social
acapkali tak nampak di pola-pola interaksi kita hari ini. Tawaran solusi untuk
hal itu kami rumuskan sesuai dengan konteks analisa kami dalam hal pola
interaksi dalam bidang bisnis atau usaha.
Dalam pola interaksi kita sehari-hari, banyak sekali hal yang
sangat mengguncang secara hati nurani, baik itu dalam fenomena kecurangan
bisnis, tipuan dalam bisnis online, tindak pidana korupsi dan lain-lain
sebagainya, kesemuanya itu hanyalah efek dari minimnya kesadaran pemahaman dari
aspek akuntabilitas dari apa yang kita lakukan sehari-hari. Pemaparan konsep trilogy
dimensi akuntabilitas (TDA) sangat diperlukan dalam menjawab problematika
tersebut.
TDA menawarkan tiga aspek tanggung jabab,
yaitu ; pertanggungjawaban primer kita kepada Sang Pencipta (Tuhan dalam bahasa
agamanya), pertanggung jawaban kita terhadap alam, dan pertanggung jawaban kita
terhadap social (sesame manusia). Konsep TDA inilah yang kami maksud sebagai
sprirualitas dan merupakan aspek yang sangat penting dalam pola-pola interaksi
apapun. Dan kami ingin menawarkan konsep spiritual dan manajemen dalam bisnis
beserta efektifitasnya yang nantinya akan kami urai sesederhana mungkin sesuai
dengan kemampuan kami yang teratas.
Tentu saja masih banyak orang yang
mempertanyakan manfaat dan efektivitas spiritual manajemen dalam bisnis.
Seiring dengan itu, semakin banyak pula organisasi bisnis yang telah melaporkan
bahwa mereka mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih menguntungkan
melalui spiritual manajemen. Diantara hal yang dirasakan adalah keakraban dan
kehangatan hubungan atasan bawahan yang terasa dekat yang pada gilirannya dapat
mencegah praktik pemogokan. Tidak mengherankan jika kualitas kerja meningkat
dan tumbuh kepedulian para pekerja terhadap tujuan bersama organisasi. Meskipun
sejumlah organisasi masih enggan menyatakan secara terbuka tentang manfaat
spiritual manajemen, namun dari pernyataan-pernyatan mereka acapkali terkandung
pengakuan akan manfaatnya. Aspek spiritual telah muncul sebagai pendatang baru
di arena bisnis dan manajemen, yang telah menempatkan setiap orang sebagai
manusia dan untuk selanjutnya sebagai tenaga kerja.
Hal terkait lainnya dengan aspek spiritual
adalah cinta. Cinta adalah perwujudan imanensi dari transedensi aspek
spiritual. Memang cinta adalah kata yang agak janggal untuk dikaitkan dengan
konteks bisnis dan manajemen yang penuh dengan konotasi persaingan dan “saling
memangsa”. Mungkin karena cinta sudah terlanjur banyak dicuplik dalam
kisah-kisah romantik penuh kelembutan pada buku-buku novel, ketimbang pada teks
kepemimpinan dan manajemen bisnis yang berkesan keras dan kejam. Konsep ‘cinta’
mungkin sudah terlanjur dimaknai sebagai hal yang emosional atau sentimental,
sehingga orang lebih suka menggunakan kata ‘spiritualitas’ sebagai alternatif
yang bermanfaat. Spiritualitas lebih dapat dilihat sebagai perspektif kedalaman
ruang batin manusia, dan dapat menjadi ide sentral yang melibatkan cinta
sebagai salah satu tema bahasan dalam bisnis dan manajemen, yang terkait dengan
kualitas eksistensi manusia, nilai-nilai dan keyakinan pribadi, hubungan kita
dengan sesama manusia, hubungan kita dengan realita, alam semesta, dan
seterusnya.
Sejumlah filsuf melihat cinta dan
spiritualitas sebagai hal yang terpisah, namun sebagian besar lainnya melihat
cinta dan spiritualitas sebagai hal yang sama. Dalam bisnis dan manajemen
‘cinta’ dan/atau ‘spiritualitas’ mengandung arti belas kasih
yang tulus bagi umat manusia, dengan segala bentuk perwujudannya. Tentu saja
kita tidak akan berbincang tentang asmara atau seks. Kita juga tidak akan
terlalu tenggelam dengan pembahasan tentang Tuhan atau agama. Cinta dan
spiritualitas telah diadopsi oleh berbagai organisasi dan keyakinan agama,
sehingga cinta dan spiritualitas telah menjadi nilai universal yang melintasi
batas sekat-sekat formalisme agama. Yang jelas siapapun bisa mencintai orang
lain dan melakukan gerak spiritual dengan cara mereka sendiri.
Gerak cinta dan/atau spiritualitas meliputi
kasih sayang dan kearifan terhadap orang lain, yang enggan merusak dunia untuk
generasi mendatang. Dengan demikian, cinta dalam dunia bisnis dan manajemen
berarti membuat keputusan dengan menaruh kepedulian terhadap orang lain dan
dunia yang kita tinggali. Pertanyaannya, mengapa cinta dan/atau spiritualitas
sebagai sebuah konsep justru sering diabaikan dalam bisnis dan manajemen?
Bagaimana cinta, kasih sayang dan spiritualitas sering dianggap sebagai aspek
yang ketinggalan zaman dalam pengembangan bisnis dan manajemen?
Kemungkinan bahwa cinta dan/atau
spiritualitas menjadi sesuatu yang tabu dalam suatu korporasi karena praktik
bisnis dan manajemen pada abad ke-20 sebagian besar berkaitan dengan perspektif
‘sisi otak kiri’, yang sering berkutat dengan permasalahan kinerja bisnis dan
manajemen, penalaran kritikal, total qulity control, perencanaan strategik,
revenue, laba, dan lain sebagainya yang mendominasi praktik bisnis dan
manajemen. Tentu kesemuanya itu merupakan aspek penting dalam bisnis dan
manajemen, namun secara fundamental hal demikian lebih ‘berorientasi maskulin’,
mungkin karena pria umumnya lebih didominasi oleh pemikiran sisi-otak-kiri
ketimbang sisi otak kanan dalam bekerja. Dan memang Secara historikal laki-laki
lebih mendominasi lanskap bisnis dan manajemen, dan hal tersebut masih
mendominasi sampai saat ini. Tidak mengherankan jika kemudian sejumlah ide dan
prioritas lebih berorientasi maskulin – keberpihakan terhadap sisi otak kiri-lah
– yang cenderung mendominasi bisnis dan manajemen. Sebaliknya cinta, kasih
sayang dan spiritualitas pada umumnya dianggap sebagai sifat feminin. Kaum
wanita lebih mungkin dibandingkan pria untuk lebih menunjukkan kasih-sayang,
welas asih, dan perilaku spiritual lainnya karena harapan budaya dan sosial
yang melatar belakanginya.
NB : Kami mengajak para pembaca untuk turut
serta berpartisipasi dalam komunitas kami ( VISASIA ENTREPRENEUR COMMUNITY),
untuk info selengkapnya klik link berikut www.visec.or.id
/ atau bisa juga mendaftarkan diri di blog ini di menu register yang terdapat
di sisi kanan atas blog kami………………………………..
SEKIAT
DAN TERIMAKASIH ATAS PARTISIPASI ANDA.
Support by : VISASIA ENTREPRENEUR INDONESIA
Support by : VISASIA ENTREPRENEUR INDONESIA

0 komentar:
Post a Comment